Most of What I Know About Writing Fiction I Learned by Running Every Day - dari buku What I Talk About When I Talk About Running Terjemahan Indonesia oleh Bernard Batubara Dalam setiap wawancara, saya ditanya begini: hal apa yang penting dimiliki oleh seorang novelis? Jawabannya cukup jelas: bakat. Betapapun kau bersemangat dan berusaha keras untuk menulis, kalau kau tak memiliki bakat sastra, kau bisa melupakan keinginanmu untuk menjadi seorang novelis. Ini lebih kepada persyaratan mendasar. Kalau tak punya bensin, mobil terbaik pun takkan bisa bergerak. Nah, permasalahan dengan bakat adalah, kita tak bisa mengontrol kualitas atau jumlahnya. Kau mungkin merasa bakatmu tak cukup dan ingin meningkatkannya, atau kau ingin mempertahankan kualitasnya, tapi tak ada satupun dari kedua hal ini yang bisa berhasil dengan mudah. Bakat memiliki pikirannya sendiri dan akan meningkat jika dirinya sedang ingin, dan ketika bakatmu mengering, ya sudah. Yah, tentu saja beberapa penyair atau...
Kompasiana bekerjasama dengan Bank Indonesia(BI) menggelar kegiatan �Jelajah Non Tunai Bersama Bank Indonesia� sebagai bagian dari Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) dari BI. Acara nangkring itu berlangsung meriah dan seru di Aula BI Perwakilan Aceh, Sabtu (25/04/2015) Kegiatan itu dihadiri oleh seratusan lebih kompasianer di Aceh. Acara dipandu dengan kocak oleh Iskandar Zulkarnen yang akrab disapa Isjet. Sang admin dari kompasiana. Tanah Aceh bagi Isjet tidak lah asing, ini yang kesekian kalinya ia menginjakkan kakinya di Banda Aceh. Pada tahun 2011, Kompasiana juga mengadakan acara Blogshop Kompasiana bersama Telkomsel di The Pade Hotel. Isjet hadir menjadi pemateri tentang perkembangan media sosial era sekarang ini. Jelajah Non Tunai Bersama Bank Indonesia menghadirkan empat pemateri dari Jakarta. Menariknya hadir salah satu pemateri dari Bank Indonesia, Teuku Munandar. Pemuda yang juga kompasianer kelahiran Pagar Air Banda Aceh sekarang ini bekerja di staf salah satu deputi di...
Cerita Kecil tentang Kartu Ucapan, Tempat yang Tua, dan Bagaimana Kita Diselamatkan oleh Benda-Benda Mati G, Sejauh yang bisa kuingat, kartu ucapan pertama darimu yang kuterima adalah sebuah kartu berwarna hitam dengan tulisan Thank You berwarna putih di permukaannya. Saat itu tanggal 1 Juni 2014, aku baru menyelesaikan manuskrip novel terbaruku. Novel itu berlatarkan kota kelahiranku, dan beberapa kali aku pernah bercerita kepadamu tentang keinginanku menuliskan sesuatu tentang kota kelahiranku. Kamu memberiku selamat lewat kartu ucapan itu. Pada bagian dalam kartu yang berlipat dua tersebut, kamu menuliskan sesuatu tentang rasa syukur dan harapan. Jika waktu bisa diputar balik, katamu, aku akan memilih untuk tetap bertemu denganmu. Aku tersenyum membacanya, dan tersenyum lagi saat mengingatnya. Kartu ucapan kedua kamu berikan sebulan setelah yang pertama. Tepatnya, pada awal bulan Juli 2014. Kali ini berukuran panjang. Seperti kartu sebelumnya, yang ini juga berwarna gelap,. Di ...
Komentar
Posting Komentar