Tahun 2003, saya semester 3, pernah beberapa kali ke ruangnya kala istirahat siang, atau bakda ashar. saya diajak oleh Junelwan (MIPA 98). Saya bergabung di Bursa Mahasiswa Unsyiah, sekretnya di gedung kecil (depan pustaka induk). Pak Agus paling sering bertanya kami: "sudah makan nak?" pernah ada waktu diskusi dengan kami di ruang PR3, datang mahasiswa dari fakultas lain, sang mahasiswa memakai sandal. Pak Agus bertanya: "kenapa ngak pakai sepatu? kan lebih gagah kalau mahasiswa pakai sepatu" beliau sambil tersenyum. Mahasiswa itu senior di atas leting saya menjawab: "ngak ada uang beli sepatu pak" selesai urusan, waktu dia permisi. pak agus keluarkan dompet. ia kasih uang ke mahasiswa itu. "Ini sedekah saya, mahasiswa harus pakai sepatu, ngak perlu beli sepatu mahal" abang leting tersebut awalnya menolak, akhirnya mengambil dengan malu2. Waktu saya SiKAT 2002, Pak Agus menjabat PD1 Teknik, saat itu PD3 Pak Nurdin Ali (TM). Nah, tahun 2003-2008 ...
Most of What I Know About Writing Fiction I Learned by Running Every Day - dari buku What I Talk About When I Talk About Running Terjemahan Indonesia oleh Bernard Batubara Dalam setiap wawancara, saya ditanya begini: hal apa yang penting dimiliki oleh seorang novelis? Jawabannya cukup jelas: bakat. Betapapun kau bersemangat dan berusaha keras untuk menulis, kalau kau tak memiliki bakat sastra, kau bisa melupakan keinginanmu untuk menjadi seorang novelis. Ini lebih kepada persyaratan mendasar. Kalau tak punya bensin, mobil terbaik pun takkan bisa bergerak. Nah, permasalahan dengan bakat adalah, kita tak bisa mengontrol kualitas atau jumlahnya. Kau mungkin merasa bakatmu tak cukup dan ingin meningkatkannya, atau kau ingin mempertahankan kualitasnya, tapi tak ada satupun dari kedua hal ini yang bisa berhasil dengan mudah. Bakat memiliki pikirannya sendiri dan akan meningkat jika dirinya sedang ingin, dan ketika bakatmu mengering, ya sudah. Yah, tentu saja beberapa penyair atau...
Kompasiana bekerjasama dengan Bank Indonesia(BI) menggelar kegiatan �Jelajah Non Tunai Bersama Bank Indonesia� sebagai bagian dari Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) dari BI. Acara nangkring itu berlangsung meriah dan seru di Aula BI Perwakilan Aceh, Sabtu (25/04/2015) Kegiatan itu dihadiri oleh seratusan lebih kompasianer di Aceh. Acara dipandu dengan kocak oleh Iskandar Zulkarnen yang akrab disapa Isjet. Sang admin dari kompasiana. Tanah Aceh bagi Isjet tidak lah asing, ini yang kesekian kalinya ia menginjakkan kakinya di Banda Aceh. Pada tahun 2011, Kompasiana juga mengadakan acara Blogshop Kompasiana bersama Telkomsel di The Pade Hotel. Isjet hadir menjadi pemateri tentang perkembangan media sosial era sekarang ini. Jelajah Non Tunai Bersama Bank Indonesia menghadirkan empat pemateri dari Jakarta. Menariknya hadir salah satu pemateri dari Bank Indonesia, Teuku Munandar. Pemuda yang juga kompasianer kelahiran Pagar Air Banda Aceh sekarang ini bekerja di staf salah satu deputi di...
Komentar
Posting Komentar