Most of What I Know About Writing Fiction I Learned by Running Every Day - dari buku What I Talk About When I Talk About Running Terjemahan Indonesia oleh Bernard Batubara Dalam setiap wawancara, saya ditanya begini: hal apa yang penting dimiliki oleh seorang novelis? Jawabannya cukup jelas: bakat. Betapapun kau bersemangat dan berusaha keras untuk menulis, kalau kau tak memiliki bakat sastra, kau bisa melupakan keinginanmu untuk menjadi seorang novelis. Ini lebih kepada persyaratan mendasar. Kalau tak punya bensin, mobil terbaik pun takkan bisa bergerak. Nah, permasalahan dengan bakat adalah, kita tak bisa mengontrol kualitas atau jumlahnya. Kau mungkin merasa bakatmu tak cukup dan ingin meningkatkannya, atau kau ingin mempertahankan kualitasnya, tapi tak ada satupun dari kedua hal ini yang bisa berhasil dengan mudah. Bakat memiliki pikirannya sendiri dan akan meningkat jika dirinya sedang ingin, dan ketika bakatmu mengering, ya sudah. Yah, tentu saja beberapa penyair atau...
Sebelum bertemu dengan cerita-cerita pendek Etgar Keret, saya belum pernah sekalipun membaca karya penulis dari Israel. Dari Jepang, saya membaca Haruki Murakami, Natsume Soseki, dan Yasunari Kawabata; dari Jerman saya membaca Hermann Hesse; dari Amerika Latin saya membaca Gabriel Garcia Marquez dan Mario Vargas Llosa; tapi belum pernah saya membaca karya penulis Israel. Fakta bahwa negara tersebut termasuk salah satu negara yang memiliki kisah paling menarik (sejarah maupun konfliknya), membuat saya bertanya-tanya kepada diri sendiri mengapa belum pernah satu kali pun sepanjang sejarah membaca saya, saya membaca karya penulis yang berasal dari sana. Tetapi, syukurlah, setelah suatu hari melihat namanya disebut dalam percakapan singkat di Twitter bersama dua orang teman penulis sebaya, akhirnya saya mencari dan menemui karya-karya Etgar Keret. Pertemuan pertama saya dengan karya Etgar Keret adalah cerita pendek berjudul �Creative Writing�. Saya membacanya di The New Yorker. Saya sudah ...
Tahun 2003, saya semester 3, pernah beberapa kali ke ruangnya kala istirahat siang, atau bakda ashar. saya diajak oleh Junelwan (MIPA 98). Saya bergabung di Bursa Mahasiswa Unsyiah, sekretnya di gedung kecil (depan pustaka induk). Pak Agus paling sering bertanya kami: "sudah makan nak?" pernah ada waktu diskusi dengan kami di ruang PR3, datang mahasiswa dari fakultas lain, sang mahasiswa memakai sandal. Pak Agus bertanya: "kenapa ngak pakai sepatu? kan lebih gagah kalau mahasiswa pakai sepatu" beliau sambil tersenyum. Mahasiswa itu senior di atas leting saya menjawab: "ngak ada uang beli sepatu pak" selesai urusan, waktu dia permisi. pak agus keluarkan dompet. ia kasih uang ke mahasiswa itu. "Ini sedekah saya, mahasiswa harus pakai sepatu, ngak perlu beli sepatu mahal" abang leting tersebut awalnya menolak, akhirnya mengambil dengan malu2. Waktu saya SiKAT 2002, Pak Agus menjabat PD1 Teknik, saat itu PD3 Pak Nurdin Ali (TM). Nah, tahun 2003-2008 ...
Komentar
Posting Komentar